Penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu berjalan sesuai dengan kaidah yang benar. Kebanyakan orang-orang menggunakan kata dengan makna yang keliru dan sudah terlanjur dianggap benar oleh masyarakat. Fenomena ini sangat dikenal sebagai salah kaprah dalam penggunaan bahasa dan terjadi hampir di semua lapisan masyarakat.
Salah kaprah ini biasanya bermula dari kebiasaan. Ketika sebuah kata yang digunakan secara keliru namun terus diulang dalam percakapan sehari-hari, makna yang salah tersebut perlahan dianggap sebagai makna yang benar. Contohnya adalah kata “absen” yang sering dipakai untuk menyebut kehadiran, padahal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), absen berarti tidak hadir. Pengaruh media massa dan media sosial juga berperan besar dalam memperluas kesalahan penggunaan kata. Judul berita, unggahan viral, hingga konten hiburan sering kali menggunakan kata secara tidak tepat demi menarik perhatian pembaca ini sangat tidak baik digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kesalahan tersebut dikonsumsi oleh jutaan orang, maka kekeliruan makna pun menyebar dengan sangat cepat dan sulit dikoreksi.
Selain itu, perkembangan bahasa gaul dan bahasa digital turut mempercepat pergeseran makna kata. Dalam konteks tertentu, perubahan makna memang wajar terjadi tetapi sebagai bagian dari dinamika bahasa. Namun, masalah ini muncul ketika penggunaan nonbaku tersebut dibawa ke dalam situasi formal seperti penulisan akademik, pemberitaan, atau dokumen resmi. Rendahnya minat membaca dan kurangnya kebiasaan merujuk pada sumber tepercaya, seperti kamus atau buku tata bahasa, juga menjadi faktor penyebab salah kaprah. Banyak orang merasa cukup memahami arti kata berdasarkan konteks, tetapi tanpa benar-benar mengetahui makna yang sebenarnya. Akibatnya, kesalahan terus berulang dari generasi ke generasi.
Untuk mengurangi kesalahan tersebut, masyarakat harus tahu untuk lebih kritis dalam menggunakan bahasa. Membiasakan diri membuka KBBI, meningkatkan literasi membaca, serta membedakan penggunaan bahasa formal dan nonformal merupakan langkah sederhana namun penting. Dengan demikian, bahasa Indonesia dapat digunakan secara tepat.
Penulis: Salsa Ayu Dian Fitriani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar