Fenomena kebiasaan mengucapkan frasa seperti “mohon izin”, “izin bertanya”, dan “siap” dalam berbagai situasi komunikasi, terutama di dunia kerja, menunjukkan bagaimana bahasa militer dan birokratis telah menyusup ke ruang-ruang sipil. Ungkapan-ungkapan itu sering kali tidak lagi dipakai karena benar-benar membutuhkan izin, melainkan sebagai kebiasaan refleks yang dianggap sopan dan tertib, meskipun tidak selalu relevan dengan konteks kalimat yang diucapkan. Akibatnya, percakapan yang seharusnya cair dan setara berubah menjadi kaku, penuh jarak, dan sarat nuansa hierarki.
Kebiasaan ini berakar dari tradisi militer yang menekankan kepatuhan, struktur komando, dan hubungan vertikal, lalu diadopsi oleh birokrasi pemerintahan dan dunia korporasi hingga akhirnya merembes ke kehidupan sehari-hari. Ketika bahasa seperti ini digunakan dalam rapat, diskusi, bahkan percakapan keluarga, nilai egaliter dan semangat kolaboratif perlahan tergeser oleh pola pikir atasan–bawahan. Bahasa yang seharusnya menjadi alat pertukaran gagasan justru berubah menjadi penanda posisi sosial.
Inilah yang disebut sebagai feodalisme linguistik, yaitu ketika kata-kata secara tidak sadar menegaskan siapa yang “di atas” dan siapa yang “di bawah”. Praktik seperti mengosongkan nomor awal dalam daftar hadir rapat atau selalu membuka kalimat dengan permohonan izin menjadi simbol ketakutan sosial dan penghormatan berlebihan terhadap otoritas. Padahal, dalam dunia profesional modern dan dalam kehidupan demokratis, relasi yang ideal adalah relasi setara antarindividu dan mitra.
Karena bahasa membentuk cara berpikir, kebiasaan berbahasa yang terlalu tunduk dapat melahirkan budaya tunduk. Oleh sebab itu, tanpa harus menghapus kata-kata seperti “mohon izin” atau “siap”, kita perlu lebih sadar kapan dan bagaimana menggunakannya. Mengganti dengan ungkapan yang lebih langsung, egaliter, dan manusiawi dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih terbuka, kreatif, dan demokratis, sehingga bahasa benar-benar menjadi sarana dialog, bukan alat penegasan hierarki.
Penulis: Nurul Aini Syarifah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar